Edisi 13 : Adab Dalam Beribadah

Buletin Da’wah Edisi : 13/I/15

(Ciri Ahli Ibadah Yang Menjadi Penghuni Neraka)
H. Yadin Aliya MA.
Pimpinan Pst. Tahfidz & Rumah Yatim AL ISHLAH

Ibadah artrinya “Pengabdian kepada Allah” dan tata caranyapun harus sesuai dengan keketatapan Allah SWT. Ketetapan Allah dalam beribadah antara lain meliputi :

A. Ikhlas. Setiap amal ibadah tergantung kepada niatnya. Ibadah apapun yang tidak didasari niat ikhlas karena Allah, tidaklah diterima Allah. Allah SWT berfirman yang artinya :Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus (Ihklas). (Qs. Al Bayinnah : 5).
Terkadang pada awalnya seseorang itu beribadah karena mengharapkan perubahan nasib hidupnya di dunia. Tidaklah salah asalkan pengharapan itu hanya digantungkan kepada Allah SWT. karena “Hanya Allah-lah tempat kita bergantung” (makna Qs. Al Ikhlash : 2). Namun saat apa yang diharapkan di dunia tidak terkabul, orang yang ikhlas akan tetap bahagia dengan ibadahnya karena dia yakin bahwa pahala di sisi Allah SWT jauh lebih besar dibandingkan nilai dunia dan seisinya.
Dua rakaat shalat lebih disukai (ahli kubur) dibandingkan (seluruh) yang tersisa dari dunia kalian (HR. Thabrani)

B. Sesuai dengan Ajaran Islam. Ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah SWT, Rasulullah SAW dan Khulafa’ur Rasyidin disebut bid’ah (menambah-nambah ajaran Islam) dan merupakan dosa besar karena bid’ah sama saja menganggap Agama Islam belum sempurna sehingga ia menambah-nambahkannya. Allah SWT berfirman yang artinya : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu (Islam), dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu. (Qs. Al Maidah : 3).
Rasulullah SAW bersabda : “Jauhilah perkara (agama) yang diada-adakan karena setiap perkara (agama) yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan” (HR. Tirmidzi). Dalam riwayat An Nasa’i dikatakan : …setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. Nasa’i).

C. Santun dan Beradab. Di saat sedang thawaf atau sa’i wajib, banyak sekali jamaah haji atau umrah yang berfoto selfi bahkan ngobrol lewat telepon, padahal kedudukan thawaf dan sa’i hampir sama dengan kedudukan shalat. Bolehkah orang sedang shalat berfoto selfi atau ngobrol sejenak lewat telpon? tentu tidak boleh. Setiap ibadah harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan sesempurna mungkin. Allah SWT menciptakan manusia tidaklah main-main melainkan penuh dengan kesungguhan. Allah SWT berfirman yang artinya : Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami? (Qs. Al Mukminun : 115)
Dengan penciptaan yang penuh kesungguhan itulah tercipta wujud manusia dalam bentuk yang paling sempurna. (makna Qs. At Tiin : 4).
Ibadah termasuk di dalamnya Shalat, adalah salah satu wujud ungkapan rasa syukur manusia kepada Allah SWT. Sungguh sangat tidak pantas apabila ungkapan rasa syukur itu dilakukan asal-asalan. Banyak orang yang rajin beribadah tapi dia celaka karena lalai, malas atau main-main dalam ibadahnya. Allah SWT berfirman yang artinya : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (Qs. Al Ma’un : 4-5). Allah SWT berfirman yang artinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An Nisa : 142).
Berkenaan dengan ayat tersebut, Rasulullah SAW bersabda:
“Demikian itulah shalat orang munafik. Demikianlah itulah shalat orang munafik. Demikian itulah shalat orang munafik. Ia duduk mengamati matahari sehingga pada saat matahari berada di antara dua tanduk syaitan (terlihat di antara dua celah bukit), maka (barulah) ia bangkit melaksanakan shalat Ashar lalu mematuk-matuk empat rakaat. Ia tidak mengingat Allah dalam (shalat)nya kecuali sedikit.” (HR Muslim).
Menurut Ibnu Katsir, yang dimaksud LALAI atau MALAS di atas adalah :

1. Tidak mengerjakannya di awal waktu.
Ketika Rasulullah SAW ditanya : “Amal apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “shalat pada awal waktunya.” ( HR. Hakim ). Sebagaimana di jelaskan di atas, menunda-nuda waktu shalat adalah tandanya orang munafiq, sedangkan orang munafiq itu tempatnya di kerak api neraka: Allah SWT berfirman yang afrtinya : Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. (Qs. An Nisa : 145).

2. Tidak melaksanakan syarat dan rukunnya dengan sempurna atau tuma’ninah
1) tidak menyempurnakan wudlunya sehingga seluruh permukaan kulit anggota wudlu terkena air ; Kunci salat adalah bersuci, yang mengharamkannya adalah takbir dan yang menghalalkannya adalah salam. (HR.Abu Daud). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata, “Kami berwudhu sampai bagian kaki hanya diusap (tidak dicuci, -pen). Lalu beliau memanggil dengan suara keras dan berkata, “Celakalah tumit-tumit dari api neraka.” Beliau menyebut dua atau tiga kali. (HR. Bukhari dan Muslim). “Tidak ada shalat (tidak sah) orang yang shalat tanpa berwudhu dan tidak ada wudhu (tidak sah) wudhunya orang yang tidak menyebut nama Allah (membaca Basmallah).” (HR. Abu Dawud).
2) Tidak melaksanakan rukun shalat sesuai dengan ketentuannya ; misalnya tidak mengucapkan apa yang seharusnya diucapkan dalam shalat. Menurut Imam Taqiyuddin Abu Bakar bin Muhammd Al-Husainy dalam kitab Kifayatul Akhyar, rukun shalat meliputi ; rukun qalbiyah (dilakukan hati, yaitu niat), rukun kauniyah (tertib/berurutan), rukun fi’liyah (yaitu rukun-rukun berupa gerakan seperti ; ruku, sujud, dll) dan rukun qauliyah (yang harus diucapkan). Yang namanya “Ucapan” harus diikuti “Gerak Bibir” sekalipun tidak terdengar bersuara. Rukun qauliyah meliputi : a. Takbiratul Ihram (HR.Bukhari). b. Al-Fatihah (HR.Bukhari) Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Fatihatul Kitab (Surah Al-Fatihah). (HR.Bukhari dan Muslim). c. Membaca Tasyahhud akhir ; “Sesungguhnya Allah, Dialah pemberi keselamatan”. (Oleh karena itu) apabila kalian duduk (dalam tahiyyat akhir) dalam shalat, bacalah : “ATTAHIYYATU LILLAAHI WASHSHALAWAATU WATHTHAYYIBAATU… dst, (HR.Bukhari) atau ATTAHIYYATUL MUBARAKATUSSHALAWATUTHTHAYYIBATU LILLAH …dst. (HR. Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi). d. Membaca shalawat pada tasyahud akhir; Apabila engkau shalat, maka bershalawatlah kepada Nabi… (HR. Ahmad) dan e. Mengucapkan “Salam yang pertama”; Mengucapkan “Salam yang pertama” yaitu ketika menoleh kekenan adalah salah satu rukun shalat (HR. Muslim)

3) Tidak meluruskan tulang rusuknya (Tidak melaksanakan rukun shalat dengan tuma’ninah) ; Rasulullah bersabda, “Tidak sah shalat seseorang, sehingga ia menegakkan (meluruskan) tulang punggung atau rusuknya” (HR. Abu Dawud). Meluruskan tulang punggung atau rusuk dalam shalat meliputi ; berdiri atau i’tidal dengan tegak tidak membungkuk (kecuali uzur), ruku dengan mensejajarkan pinggul dan kepala, duduk antara dua sujud dengan tegak (tidak membungkuk) dan sujud dengan meletakan 7 anggota sujud ke lantai (dahi atau kening, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan jari-jari kedua kaki).
“Jika hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat al Quran yang mudah. Kemudian rukuklah sampai tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga berdiri tegak, setelah itu sujudlah dengan tumakninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk tumakninah, setelah itu sujudlah sampai benar-benar sujud, Kemudian lakukan seperti itu pada seluruh shalatmu” (HR Bukhari). Thuma’ninah adalah diam beberapa saat setelah tenangnya anggota-anggota badan minimal dengan lama waktu yang diperlukan seperti ketika membaca tasbih. (Lihat Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq:1/124)

4) Mencuri dalam shalat (tidak menselaraskan antara bacaan dengan geraknya). “Sejahat-jahat pencuri adalah orang yang mencuri dalam shalatnya.” Para sahabat bertanya: “Bagaimana ia mencuri dalam shalatnya?” Kemudian Nabi menjawab: “(Ia) tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya” (HR. Imam Ahmad). Termasuk mencuri dalam shalat antara lain ; membaca tasbih saat ruku (Subhana Rabbiyal ‘adzimi wabihamdihi) sambil berdiri i’tidal (seharusnya selesaikan dulu saat masih ruku), membaca bacaan i’tidal (sami’allahu liman hamidah, Rabbana…dst.) sambil turun untuk sujud (seharusnya selesaikan dulu saat masih i’tidal/berdiri tegak), membaca bacaan sujud (Subhana rabbiyal a’la…dst.) sambil bangun untuk duduk (seharusnya selesaikan dulu saat masih sujud), membaca bacaan duduk antara dua sujud (Rabbighfirli warhamni…dst.) sambil sambil turun untuk sujud (seharusnya selesaikan dulu saat masih duduk) dll.

3. Tidak menjaga kekhusyu’an dalam shalat.
Ketika seorang ulama Tabi’in, Hatim Al ‘Asham, ditanya ‘Isham bin Yusuf tentang “bagaimana cara shalat yang khusyu”? lalu menjawab : Jika datang waktu shalat maka saya segera berwudhu baik secara dzahir maupun bathin. Wudhu secara dzahir adalah membasuh anggota wudhu dengan air, maka wudhu secara bathin adalah membasuh anggota wudhu dengan tujuh hal, yaitu ; taubat, penyesalan, meninggalkan dunia, meninggalkan pujian makhluq, meninggalkan wibawa, meninggalkan kedengkian dan meninggalkan sifat iri dengki. Setelah itu saya pergi ke masjid dengan fikiran fokus hanya untuk shalat, kemudian menghadap kiblat dan memulai shalat. Pada saat itu saya berdiri diantara rasa harap dan cemas, saya merasa bahwa Allah melihatku, saya merasakan seakan-akan syurga ada disebelah kananku, neraka di sebelah kiriku, sedangkan Malaikat Maut ada di belakangku. Selain itu saya merasa seakan-akan kedua kakiku ada di atas Shiratal Mustaqim yang membentang di atas lautan api neraka tanpa batas, dan pada saat itu pula saya menganggap bahwa shalat yang saya lakukan adalah shalat terakhirku. Andaikan belum mampu khusyu seperti dijelaskan di atas, setidaknya kita tetap memilihara rasa ta’dzim kita dalam shalat dengan tidak tergesa-gesa karena shalat berarti akan bertemu neghadap kepada Allah SWT (makna QS. Al Baqarah : 45-46).

4. Lalai dengan tidak merenungkan bacaan-bacaan shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Shalatlah kamu sekalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad). Diriwayatkan dari Tsabit Al-Bunaniy dari Muthorrif dari bapaknya berkata: Saya menjumpai Nabi Shalallahu’alaihi Wassallam sedang dalam keadaan shalat, terdengar dalam perut beliau Al-Aziz (seperti suara air yang mendidih dalam panci) maksudnya beliau sedang menangis. (HR Ahmad, An-Nasa-i dan Abu Dawud). Tentu beliau menangis karena merenungkan bacaan shalatnya.
Lalai dalam shalat termasuk suatu kemungkaran yang harus dicegah dan diperingatkan. Abu Abdillah Al-Asy’ari berkata: “(suatu ketika) Rasulullah shalat bersama sahabatnya kemudian beliau duduk bersama mereka. Tiba-tiba seorang laki-laki masuk dan berdiri menunaikan shalat. Orang itu ruku’ lalu sujud dengan cara mematuk (shalatnya cepat sekali -red), maka Rasulullah bersabda : “Apakah kalian menyaksikan orang ini? Barang siapa meninggal dalam keadaan seperti ini (shalatnya), maka dia meninggal dalam keadaan di luar agama Muhammad SAW. Ia mematuk dalam shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Sesungguhnya perumpamaan orang yang shalat dan mematuk dalam sujudnya bagaikan orang lapar yang tidak makan kecuali sebutir atau dua butir kurma, bagaimana ia bisa merasa cukup (kenyang) dengannya” (HR. Ibnu Khuzaimah).
Mungkinkah shalat 23 rakaat hanya dilakukan 7 menit bisa memenuhi ketentuan tersebut ?
Wallahu a’lam.
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬

PESANTREN TAHFIDZ & RUMAH YATIM AL ISHLAH

Jl. Raya Penggilingan, RT 013/07 Cakung, Jakarta Timur
Telp. 021-4801454 HP. 081314650100
( WAKAF )
¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬¬
Alhamdulillah berkat kepercaayaan masyarakat yg luar biasa, kami telah memiliki bangunan sendiri 3 lantai
(Kini pengerjaannya sudah mencapai 75 %).

Dengan Menjadi Orang Tua Asuh, Menjadikan Mereka Hafidz/Hafidzah dan Sekaligus Sebagai Pemilik Pesantren
Melalui :
1. Zakat Mal, Infaq dan Shadaqah
2. Infaq berbagi kebahagiaan untuk 80 YATIM
3. Wakaf untuk membebaskan Tanah & Bangunan 300 m2 Hanya @ Rp 3,5 Jt/m2

Salurkan melalui BANK MU’AMALAT a/n PESANTREN TAHFIDZ DAN RUMAH YATIM AL ISHLAH
No. Rekening 3480005111 atau ke Rekening Ketua a/n YADIN, BANK BRI : 0927-01-023045-53-6. BANK MANDIRI : 166-00-0085227-7. BANK DKI : 501.23.01124.6

Comments are closed.