Hidayah Itu Datang Dari Anak

Dikisahkan, ada seorang  anak, nama panggilan kesayangannya “Mas Wis”.  Sering kali saat ayah ibunya memberi uang saku untuk sekolah, sang anak menjawab “gak usah Pak, gak usah Bu” uang jajan saya masih ada. Dalam hal belajar Bukan karena sangat pintar atau jenius, tetapi karena ketekunan dan do’a orang tua, Mas Wis mampu menyelesaikan kuliahnya tepat  pada waktunya.  Saat orang tuanya membangun rumah untuk Mas Wis, Mas Wis tidak terlihat gembira, malah dia berkata kepada ayahnya “Bapak Hanya Berfikir Dunia dan Dunia, mana untuk akhirat Bapak” ?

Subhanallah, Orang Tua Mas Wis betul-betul kaget, kata-kata tersebut selalu terngiang-ngiang di telinganya, yang lebih mengagetkan lagi ternyata “kata-kata” tersebut adalah nasehat  terakhir sang anak,  karena tidak berapa lama setelah itu Mas Wis meninggal dunia saat sedang sujud shalat  Asar, Subhanallah, Allahu AkbarInna lillahi wa inna ilahinraji’un.

Saat terakhir melihat wajah jenazah sang anak, sebelum wajahnya ditutup kain kapan untuk selamanya, suasana begitu terasa hening, ayahnya berkata dengan terbata-bata  sambil sesekali mengusap wajahnya yang basah kuyup dengan air mata,  “Anakku…, Anakku…, Ayah ikhlas, rido merelakanmu…. Ibunya berkata sambil menagis tersedu-sedu “Mas Wis, Ibu ingin segera menyusulmu… Ayahnya berkata “Mas Wis, Ayahmu, ibumu, akan selalu mengingat nasehatmu…”.  Ibunya berkata dengan bibir gemetar dan mata terpejam, “Mas Wis Ibu sayang kamu.., Mas Wis Ibu sayang kamu…, Mas Wis Ibu sayang kamu…”. Ibunyapun terkulai jatuh pingsan. Hampir semua yang menyaksikan peristiwa tersebut menangis, turut merasakan kesedihan mendalam ditinggal mati putra kesayangannya, terlebih para ibu yang mempunyai anak seuisanya.

Waktu terus berlalu, tiap kali masuk kamar Mas Wis, terasa seperti ada bisikan yang  menggetarkan hati “Bapak Hanya Berfikir Dunia dan Dunia, mana untuk akhirat Bapak” ?

Menyadari  bahwa kematian adalah taqdir dan keluarga tidak boleh terus larut dalam kesedihan, yang tadinya sepeninggal Mas Wis letak barang-barang yang ada di kamarnya tak pernah dirubah, akhirnya kelaurga mulai membereskannya. Ketika tas yang sehari-hari biasa dibawa Mas Wis ke kantor dibuka,  ditemukan BUKU TABUNGAN atas nama Mas Wis dengan nominal lebih dari Rp 100 Juta. Inget dengan ucapan Mas Wis semasa hidupnya “Bapak Hanya Berfikir Dunia dan Dunia, mana untuk akhirat Bapak” ?, akhirnya orang tuanya sepakat bahwa uang tersebut  diwakafkan untuk PESANTREN TAHFAIDZ DAN RUMAH YATIM AL ISHLAH.  Uang inilah sebagai Cikal Bakal Berdirinya gedung  PESANTREN TAHFIDZ DAN RUMAH YATIM AL ISHLAH … 3 lantai, yang saat ini pembangunannya sudah mencapai 75 %.

Pak Sarju

Bpk. SARJU BIN Bpk. DALIO (Sebelah kanan pimpinan AL ISHLAH) dan Bpk. H. DALIMAN BIN Bpk. H. BILAL (Sebelah kiri)

Inilah dua sosok manusia biasa Bpk. SARJU BIN Bpk.DALIO dan Bpk. H. DALIMAN BIN Bpk. H. BILAL, bersahaja,  tetapi HATINYA LUAR BIASA, rela mewakafkan harta yang dicintainya bernilai  miliaran rupiah untuk PESANTREN TAHFAIDZ DAN RUMAH YATIM AL ISHLAH

Subhanallah, Allahu Akbar

Comments are closed.